Sabtu, 16 Agustus 2014

ANALISIS TRANSAKSIONAL (TA)



BAB I
PENDAHULUAN
Analisis transaksional (TA) merupakan teori kepribadian dan sistem yang terorganisir dari terapi interaksional. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa disaat kita membuat keputusan berdasarkan premis premis masa lalu yang pada suatu waktu sesuai dengan kebutuhan kelangsungan hidup kita tetapi yang mungkin tidak lagi berlaku. TA menekankan aspek kognitif dan perilaku dari proses terapeutik.
Tujuan dari analisis transaksional adalah otonomi, yang didefinisikan sebagai kesadaran, spontanitas, dan kapasitas untuk keintiman. Dalam mencapai otonomi orang mempunyai kapasitas untuk membuat keputusan baru (redecide), sehingga memberdayakan diri mereka sendiri dan mengubah arah hidup mereka. Sebagai bagian dari proses terapi TA, klien belajar bagaimana mengenali tiga status ego Parent, Dewasa, dan Anak di mana mereka berfungsi. Klien juga belajar bagaimana perilaku mereka saat ini sedang dipengaruhi oleh aturan-aturan yang mereka terima dan dimasukkan sebagai anak-anak dan bagaimana mereka dapat mengidentifikasi “lifescript” yang menentukan tindakan mereka. Pendekatan ini berfokus pada keputusan awal bahwa setiap orang telah dibuat, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan-keputusan baru untuk mengubah aspek kehidupan mereka yang tidak lagi bekerja.
TA adalah terpisah dari pendekatan terapeutik paling lain dalam kontrak itu dan putusan. Kontrak, yang dikembangkan oleh klien, dengan jelas menyatakan tujuan dan arah dari proses terapeutik. Klien dalam membangun TA dan arah tujuan mereka dan menjelaskan bagaimana mereka akan berbeda saat mereka menyelesaikan kontrak mereka. Kontraktual aspek dari proses terapi cenderung menyamakan kekuatan terapis dan klien. Ini adalah tanggung jawab klien untuk memutuskan apa yang mereka akan berubah. Untuk mengubah keinginan mereka menjadi kenyataan, klien diperlukan untuk secara aktif mengubah perilaku mereka.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      LATAR BELAKANG ANALISIS TRANSAKSIONAL
Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
AT dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Pendekatan analisis transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. Pada dasarnya teori analisis transaksional berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir, dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan- perasaannya.
Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric Berne menggunakan berbagai bentuk permainan antara orang tua, orang dewasa dan anak.
Dalam eksprerimen yang dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan bagaimana status ego anak, orang dewasa dan orang tua, dalam interaksi satu sama lain, serta bagaimana gejala hubungan interpersonal ini muncul dalam berbagai bidang kehidupan seperti misalnya dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan sebagainya.
Dari eksperimen ini Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi dan hubungan traksaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan psikologis. Percobaan Eric Berne ini dilakukan hampir 15 tahun dan akhirnya dia merumuskan hasil percobaannya itu dalam suatu teori yang disebut Analisis Transaksional dalam Psikoterapi yang diterbitkan pada tahun 1961. Selanjutnya tahun 1964 dia menulis pula tentang Games Pupil Play, dan tahun 1966 menerbitkan Principles of Group Treatment. Pengikut Eric Berne adalah Thomas Harris, Mc Neel J. dan R. Grinkers.

B.       KONSEP DASAR ANALISIS TRANSAKSIONAL
Analisis Transaksional berakar dalam suatu filsafat anti deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia bukanlah suatu yang sudah ditentukan. Analisis Transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan dalam menghadapipersoalan-persoalan hidupnya.
Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi, yang dipertukarkan adalah pesan pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).
Konsep AT memiliki empat posisi dasar yaitu;
·         Pertama, Saya OK—Kamu OK
·         Kedua, Saya OK—Kamu Tidak OK
·         Ketiga, Saya Tidak OK—Kamu OK
·         Keempat, Saya Tidak OK—Kamu TidakOK.
Masing-masing dari posisi itu berlandaskan pada keputusan yang dibuat seseorang sebagai hasil dari pengalaman masa kecil. Bila, keputusan yang telah diambil, maka umumnya dia akan bertahan pada keputusannya itu, kecuali bila ada intevensi (konselor atau kejadian tertentu) yang mengubahnya. Posisi yang sehat adalah posisi dengan perasaan sebagai pemenang atau posisi Saya OK—Kamu OK. Dalam posisi tersebut dua orang merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang terbuka. Saya OK—kamu tidak OK, adalah posisi orang yang memproyeksikan masalah-masalanya kepada orang lain dan biasanya melimpahkan kesalahan pada orang lain, ciri pada posisi ini menunjukan sikap arogan, menjauhkan seseorang dari orang lain dan mempertahankan seseorang dari teralinasi. Saya Tidak OK—Kamu OK , adalah posisi orang yang mangalami depresi, merasa tidak kuasa dibanding dengan orang lain dan cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi keinginan orang lain daripada keinginan diri sendir. Saya Tidak OK—Kamu Tidak OK, adalah posisi orang yang memupus semua harapan, bersikap pesimis, dan memandang hidup sebagai sesutau yang hampa.




C.      TUJUAN KONSELING (terapi)
Tujuan utama dari AT adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang berhubungan tingkah lakunya saat ini dan arah hidupnya. Sedangkan sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari, bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh keputusan awal mengenai posisi hidupnya serta pilihan terhadap cara-cara hidup yang  stagnan dan deterministik. Menurut Berne (1964) dalam Corey (1988) bahwa tujuan dari AT adalah pencapaian otonom yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik; kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
Penekanan terapi adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang menyalahkan diri dan gaya hidup otonom ditandai dengan kesadaran spontanitas dan keakraban. Menurut Haris (19967) yang dikutip dalam Corey (1988) tujuan pemberian treatment adalah menyembuhkan gejala yang timbul dan metode treatment adalah membebaskan ego Orang Dewasa sehingga bisa mengalami kebebasan memilih dan penciptaan pilihan-pilihan baru atas pengaruh masa lampau yang membatasi. Tujuan terapeutik, dicapai dengan mengajarkan kepada klien dasar-dasar ego Orang Tua, ego Orang Dewasa, dan ego Anak. Para klien dalam setting kelompok itu belajar bagaimana menyadari dan menjabarkan ketiga ego selama ego-ego tersebut muncul dalam transaksi-transaksi kelompok.

D.      FUNGSI DAN PERANAN TERAPI ANALISIS TRANSAKSIONAL
Harris (1967) yang dikutip dalam Corey (1988) memberikan gambaran peran terapis, seperti seorang guru, pelatih atau nara sumber dengan penekanan kuat pada keterlibatan. Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan. Selanjutnya menurut Corey (1988), peran terapis yaitu membantu klien untuk membantu klien menemukan suasana masa lampau yang merugikan dan menyebabkan klien membuat keputusan-keputusan awal tertentu, mengindentifikasikan rencana hidup dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakannya dalam menghadapi orang lain yang sekarang mungkin akan dipertimbangkannya. Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan mencari alternatif-alternatif untu menjalani kehidupan yang lebih otonom.
Terapis memerlukan hubungan yang setaraf dengan klien, menunjuk kepada kontrak terapi, sebagai bukti bahwa terapis dan klien sebagai pasangan dalam proses terapi. Tugas terapi adalah, menggunakan pengetahuannya untuk mendukung klien dalam hubungannya dengan suatu kontrak spesifik yang jelas diprakarsai oleh klien. Konselor memotivasi dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego Orang Dewasanya sendiri ketimbang ego Orang Dewasa konselor dalam memeriksa keputusan–keputusan lamanya serta untuk membuat keputusan-keputusan baru.

E.       PERAN KONSELOR
1.      Konselor berperan sebagai guru, pelatih dan narasumber
2.      Sebagai guru, konselor menerangkan konsep-konsep seperti analisis structural, analisis transaksional, analisis scenario, analisis permainan
3.      Sebagai pelatih, konselor mendorong dan mengajari klien agar mempercayai ego dewasanya sendiri
4.      Membantu klien dalam hal menemukan kondisi masa lalu yang tidak menguntungkan
5.      Menolong klien mendapatkan prangkat yang diperlukan untuk mendapatkan perubahan
6.      Menolong klien untuk menemukan kekuatan internal guna mengambil keputusan yang cocok.

F.       TEKNIK DAN PROSEDUR TERAPI
Untuk melakukan terapi dengan pendekatan AT menurut Haris dalam Corey (1988) treatment individu-individu dalam kelompok adalah memilih analisis-analisis transaksional, menurutnya fase permualaan AT sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan pada peran didaktik terapis kelompok. Konsep-konsep AT beserta tekniknya sangat relevan diterapkan pada situasi kelompok, meskipun demikian penerapan pada individu juga dianggap boleh dilakukan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh, bila digunakan dengan pendekatan kelompok.
·           Pertama, berbagai ego Orang Tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati.
·           Kedua, karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu di kelompok bisa dialami.
·           Ketiga, individu dapat mengalami dalam suatu lingkungan yang bersifat alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan orang lain. Keempat, konfrontasi permainan yang timbal-balik dapat muncul secara wajar. Kelima, para klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.
Prosedur pada AT dikombinasikan dengan terapi Gestalt, seperti yang dikemukakan oleh James dan Jongeward (1971) dalam Corey (1988) dia menggabungkan konsep dan prosedur AT dengan eksperimen Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang diperoleh dapat lebih efektif untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu;
1.        Analisis Struktur
Analisis struktur maksudnya adalah analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien. Analis hendaknya bisa mengenal 1) apakah klien menggunakan ego state tertentu, 2) apakah ego state klien, normal, terkontaminasi atau eksklusif, dan 3) bagaimanakah energi egogram klien tersebut.
Dengan mengetahui struktur ego state klien, akan diketahui masalah yang dihadapi klien. Bila klien dominan menggunakan ego state A masalah yang dihadapinya kurangnya rasa pecaya diri atau dipandang rendah o rang lain. Bila O yang domninan maka klien tengah ditakuti, dijauhi, disisihkan atau diasingkan orang lain.
2.        Analisis transaksional
Transaksi antara konselor – klien pada hakekatnya adalah tranasksi antar status ego keduanya. Konselor menganalisa status ego yang terlihat dari respons atau stimulus klien. Dengan orang lain Baik dari kata-kata yang diungkapkan klien, maupun dengan bahasa non verbal. Data atau informasi yang diperoleh dari transaksi dijadikan konselor untuk bahan analisis atau problem yang dihadapi klien.
3.        Analisis Mainan
Analisis mainan adalah analisis hubungan transaksi yang terselubung antara Klien dengan konselor atau dengan Lingkungannya. Mungkin Klien dalam transaksinya sering mengumpulkan “kupon emas atau kupon Coklat” (perasaan menang atau perasaan kalah). Bila klien dalam games sering berperan sebagai pemenang, maka ada kemungkinan ia menjadi amat takut sewaktu-waktu akan menerima kopon cokelat yang banyak.
4.        Analisis Skript
Analisis Skript ini merupakan usaha terapist yang terakhir, dan diperlukan mengenal proses terbentuknya skript yang dimiliki klien. Analisis skript ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi seseorang sejak masa kecil dan standar sukses yang telah ditanamkan orang tuanya.











BAB III
SIMPULAN
Analisis transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. Yang dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Pendekatan analisis transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak.
Ø  Konsep AT memiliki empat posisi dasar yaitu;
·         Pertama, Saya OK—Kamu OK
·         Kedua, Saya OK—Kamu Tidak OK
·         Ketiga, Saya Tidak OK—Kamu OK
·         Keempat, Saya Tidak OK—Kamu TidakOK.
Ø  Tujuan utama dari AT
adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang berhubungan tingkah lakunya saat ini dan arah hidupnya. Sedangkan sasarnnya adalah mendorong klien agar menyadari, bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh keputusan awal mengenai posisi hidupnya serta pilihan terhadap cara-cara hidup yang stagnan dan deterministik.
Ø  Adapun peran konselor:
1.      Konselor berperan sebagai guru, pelatih dan narasumber
2.      Sebagai guru, konselor menerangkan konsep-konsep seperti analisis structural, analisis transaksional, analisis scenario, analisis permainan
3.      Sebagai pelatih, konselor mendorong dan mengajari klien agar mempercayai ego dewasanya sendiri
4.      Membantu klien dalam hal menemukan kondisi masa lalu yang tidak menguntungkan
5.      Menolong klien mendapatkan prangkat yang diperlukan untuk mendapatkan perubahan
6.      Menolong klien untuk menemukan kekuatan internal guna mengambil keputusan yang cocok.
Ø  Teknik yang bisa digunakan yaitu:
1.      Analisis struktur
2.      Analisis transaksional
3.      Analisis mainan
4.      Analisis script

DAFTAR PUSTAKA

_____Gerald Corey. Teori dan praktik konseling & psikotrapi, Refika aditama, Bandung 2009.

________________________Expertrese.blogspot.com/2011/03/psikotrapi-pendekatan-analisis.

­______Sofyan S. Willis. Konseling Individual teori dan prakter, ALFABETA, Bandung 2010.



Sabtu, 25 Mei 2013

tugas manajer



BAB II
PEMBAHASAN
A.      TUGAS DAN FUNGSI MANAJER
Manajer adalah pimpinan atau pemimpin suatu organisasi. Dalam organisasi, istilah manajer digunakan dengan berbagai istilah, yaitu direktur, rector, pimpinan, ketua, kepala, presiden, dan sebagainya. Dalam pendidikan, ada yang disebut dengan rector, direktur, ketua umum, kepala sekolah, mudir’am (bahasa Arab). Rektor, dekan, ketua jurusan, direktur pascasarjana, ketua program studi di perguruan tinggi, dan ketua untuk sekolah tinggi, kepala sekolah untuk sekolah tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah dan tingkat atas atau SLTP, tsanawiyah, SMU, dan aliyah.
Manajer memegang otoritas yang menentukan perkembangan lembaga pendidikan. Kedudukannya sangat strategis karena berhubungan secara langsung dengan pengambilan keputusan dan kebijaksanaan yang ditetapkan untuk dilaksanakan secara operasional oleh seluruh bawahannya.
Karena berhubungan secara langsung dengan pengambilan keputusan, paling tidak, seorang manajer harus memiliki tiga macam keterampilan.
1.        Keterampilan konseptual. Keterampilan konsep merupakan keterampilan memahami dan mengelola organisasi.
2.        Keterampilan manusiawi. Keterampilan manusia adalah keterampilan melakukan kerja sama, memotivasi, dan membangkitkan etos kerja para pegawai.
3.        Keterampilan teknis. Keterampilan teknis adalah keterampilan mengoprasionalkan alat-alat, metode, dan fasilitas lainnya yang tradisional maupun modern.

Tugas dan fungsi manajer adalah fungsi-fungsi manajemen, yaitu merencanakan seluruh program kerja lembaga pendidikan secara konseptual. Kunci dasar dari visi dan misi serta penjabarannya perlu diorganisasikan degan matang agar seluruh manajer dan bawahannya dapat melakukan hubungan kerja sama yang sinergis dan mampu melaksanakan secara praktis hingga pada hal yang bersifat teknis.
Sebagai pembuat rencana sekaligus pengambil keputusan terhadap seluruh rencana yang telah dirumuskan dan ditetapkan, ketegasan mengambil keputusan sangat penting. Hal ini karena berkaitan secara lagsung dengan deskripsi kerja manajer madya dan manajer operasional yang duduk terdepan dalam melakukan tugas-tugas konkret dan teknis bersama-sama dengan bawahannya sebagai pelaksana langsung kegiatan yang sesuai rencana dengan tetap diarahkan pada tujuan yang telah ditentukan, baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka menengah dan jangka panjang.
Sebagai manajer, ia harus mengetahui, mengerti, dan memahami semua hal yang berkaitan dengan administrasi organisasi pendidikan, sekolah atau perguruan tinggi. Bahkan ia harus memahami potensi yang dimiliki oleh para guru dan dosen sehingga komunikasi dengan para pendidik dan seluruh bawahannya akan membantu kinerjanya, terutama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai manajer organisasi pendidikan, manajer harus memiliki berbagai persyaratan tertentu agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Beberapa persyaratan tersebut diantaranya adalah memiliki ijazah, kemampuan mengajar, dan kepribadian yang baik, serta memiliki pengalaman bekerja pada lembaga yang sejenis. Pengalaman kerja akan  mematangkan cara kerja seorang manajer, dan terutama akan akan memiliki kecerdasan emosional yang baik. Manajer yang tidak berpendirian, emosional, ceroboh, pemarah, dan berbagai sifat buruk lainnya akan menghambat tercapainya tujuan lembaga pendidikan. Sebaliknya, manajer yang memiliki sifat pengayom, penyabar, tidak ceroboh, luwes, ramah,, tegas tetapi tidak kaku, membantu para pendidik dalam menjalankan tugas-tugasnya akan menyebabkan suasana lembaga pendidikan menjadi tertib dan harmonis sehingga mempercepat terwujudnya tujuan yang diharapkan.
Manajer juga harus memiliki ide-ide kreatif yang dapat meningkatkan perkembangan pendidikan, ia dapat mendiskusikan ide-ide tersebut untuk diterapkan dalam proses kependidikan. Bila dicapai kesepakatan antara manajer dengan para pendidik, yaitu dosen dan guru, ide-ide tersebut dapat direalisasikan secara sistematik[1].
Sebagai manajer suatu lembaga pendidikan, ia mengembangkan tugas-tugas yang sangat strategis dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Tugas-tugas manajer secara konseptual adalah sebagai berikut:
1.        Membuat perencanaan
2.        Pengembangan dan pemberdayaan kepegawaian
3.        Pengelolaan administrasi keuangan lembaga
4.        Pengembangan sarana dan prasarana lembaga.
Manajer harus memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dalam melakukan hal-hal berikut.
1.        Pelaksanaan kegiatan yang arif dan bijaksana, serta tidak memaksakan kehendak.
2.        Berwibawa dan loyal terhadapt tugas dan kewajibannya.
3.        Ahli dan terampil.
4.        Perencana yang penuh dedikasi terhadap yang telah direncanakannya.
5.        Pengambil keputusan yang tegas, akurat, dan penuh perhitungan ke depan.
6.        Representasi dari semua bawahannya.
7.        Pengawas yang memberi teladan dengan pedoman Ing ngarso asung tulodo, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
8.        Motivator dan stabilisator untuk segala situasi dan kondisi.
9.        Pemberi rewards and punishments bagi bawahannya.
10.    Bertindak sebagai wasit yang adil dalam menyelesaikan konflik yang terjadi dilembaganya.
11.    Panutan bagi bawahannya, dan mampu berkomunikasi dengan suasana hati yang tenang dan menyejukkan.

Manajer dituntut bijaksana dalam mengambil keputusan, terutama dalam situasi yang dilematik. Gaya pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan seorang manajer ysng turut menentukan proses dan tingkat keberhasilan kepemimpinannya.
Manajer yang bijak adalah manajer yang ketika menghadapi masalah selalu melibatkan semua bawahannya untuk ikut serta memecahkan masalah sesuai degan kapasitas dan keahliannya. Gagasan pemecahan masalah dapat ditampung sedemikian rupa dari seluruh bawahannyaa, dan bawahannya diberi kesempatan untuk memberikan contoh pemecahan masalah.
B.       TUGAS TELAAH MASALAH BAGI MANAJER
Pada hakikatnya, manajer yang memiliki keterampilan konseptual adalah manajer yang cerdas menelaah masalah yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan biasanya tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan oleh beberapa faktor. faktor-faktor lahirnya masalah adalah sebagai berikut.
1.        Faktor kepemimpinan suatu lembaga
2.        Faktor penempatan manajer madya dan manajer operasional yang kurang mahir
3.        Faktor sarana dan prasarana yang kurang memadai
4.        Faktor tujuan pendidikan yang ditetapkan
5.        Faktor sumberdaya manusia
6.        Faktor kurikulum dan filosofi yang tidak rasional
7.        Faktor sumber dana bagi operasional lembaga pendidikan
8.        Faktor media pendidikan
9.        Faktor lingkungan sekolah dan lingkungan eksternal sekolah yang kurang menunjang
10.    Sistem yang buruk dan manajemen yang buruk

Manajer yang akan mengambil keputusan  harus menelaah sistem manajemen yang selama ini diterapkan, misalnya menelaah kinerja staf atau bawahannya. Tujuan dari suatu telaah staf adalah membantu manajer dalam mengambil keputusan terhadap suatu masalah tertentu yang dihadapi. Hasil yang diperoleh dari suatu penelaahan adalah rekomendasi yang memuat alternative yang perlu ditempuh di dalam memecahkan suatu permasalahan. Pada umumnya, suatu penelaahan memiliki karakteristik tertentu, yaitu:
1.        Proses investigasi terhadap tujuan-tujuan lembaga pendidikan yang telah dievaluasi dan hasilnya telah disempurnakan.
2.        Mengukur diri sendiri
3.        Mencari alternative pemecahan masalah yang paling memungkinkan.
4.        Perbandingan terhadap alternatif-alternatif yang tersedia, terutama terhadap pengaruh yang ditimbulkannya.
5.        Pertimbangan aspek-aspek permasalahan yang dianggap penting.
6.        Pendekatan irerative.[2]
Fungsi telaah masalah, kaitannya dengan tugas manajer, terletak pada proses menentukan langkah-langkah pengambilan keputusan. Manajer yang cerdas, cermat, dan bijaksana dalam pengambilan keputusan, terutama, ketika menetapkan alternative pemecahan masalah adalah manajer yang mementingkan penelitian dan pengujian terhadap berbagai alternative yang ada. Pengambilan  keputusan yang dilakukan manajer harus mengacu pada pandangan-pandangan rasional dan kebijakan yang telah dimusyawarahkan dengan seluruh bawahannya.
Beberapa prinsip yang digunakan dalam mengadakan kegiatan pembinaan adalah sebagai berikut:
1.        Prinsip konstruktif, yaitu berpijak pada upaya mengembangkan kompetensi dosen/guru.
2.        Prinsip inovatif dan kreatif, yaitu bertolak dari upaya menciptakan konsep-konsep baru yang dapat dijadikan alternative pengembangan lembaga pendidikan.
3.        Prinsip efektivitas dan efisien, yang bertolak dari pemanfaatan sarana dan prasarana sesuai dengan kemampuan dan tidak memaksakan kehendak.
4.        Prinsip objektivitas rasional, yang bertitik tolak dari tujuan, visi dan misi yang dicanangkan, dengan melakukan penggemblengan kepribadian seluruh personal lembaga pendidikan agar memiliki komitmen dan loyalitas yang kuat terhadap lembaga pendidikan yang menjadi bagian dari kehidupannya.
5.        Prinsif preventif, yaitu mencegah timbulnya hal-hal yang berakibat buruk.
6.        Prinsip korektif, bertitik tolak dari keinginan memperbaiki seluruh kekurangan sistematik lembaga pendidikan.
7.        Prinsip kooperatif, yaitu bertitik tolak dari kerja sama yang sinergis di antara seluruh personal lembaga pendidikan guna memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dan melaksanakan seluruh perencanaan pendidikan sesuai dengan arahan dan tujuan yag ditargetkan bersama.
8.        Prinsip pluralistik, yaitu bertitik tolak dari keanekaragaman potensi dan kecakapan personal lembaga pendidikan untuk disatupadukan dalam mengejar sasaran yang menjadi tujuan lembaga pendidikan.


C.      TINGKATAN MANAJEMEN
Kadarman dan Yusuf Udaya menjelaskan bahwa dalam organisasi kecil, menengah, besar maupun raksasa, tugas-tugas manajemen adalah menggunakan sumber daya yang memiliki seoptimal mungkin, dengan melakukan kegiatan yang efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Kagiatan tersebut bermacam-macam, baik dilihat dari segi bidangnya maupun keterampilan yang dibutuhkan. Karena pendidikan, pengalaman, keterampilan, dan daya pemahaman terhadap sasaran organisasi oleh masing-masing tenaga kerja tidak sama diperlukan orang-orang tertentu yang bertugas mengarahkan semua kegiatan organisasi untuk pencapaian tujuan organisasi. Orang tersebut adalah manajer. Menurut tingkatannya dalam organisasi, ada tiga jenis manajer.[3]
1.        Manajer puncak (top managers)
2.        Manajer menengah (middle managers)
3.        Manajer garis pertama (first line managers)
Jenis-jenis manajer dapat dibedakan menurut ruang lingkup kegiatan yang dikelola.
1.        Manajer fungsional (functional managers), yaitu manajer yang hanya bertanggung jawab atas suatu kegiatan saja atau menjelankan satu fungsi manajerial saja, misalnya manajer produksi/operasi, manajer pemasaran, manajer keuangan, atau manejer SDM.
2.        Manajer umum (general managers), yaitu manajer yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan dalam unitnya, seperti keuangan, pemasaran, produksi/operasi, dan SDM.

Perlu diketahui bahwa di dalam setiap organisasi, semakin tinggi tingkat manajerialnya, jumlahnya semakin sedikit, dan sebaliknya. Selain itu, kerja sama yang baik dan harmonis antara manajer dan karyawan mutlak diperlukan. Tanpa itu semua, akan terjadi beberapa kerugian, terutama ketegangan-ketegangan dan pemborosan-pemborosan yang akhirnya menghambat tercapai tujuan organisasi.
Setiap tingkatan manajemen atau manajer dalam lembaga pendidikan harus memiliki tiga keterampilan utama. Manurut Robert L. Kazn, tiga jenis keterampilan utama yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajer, yaitu sebagai berikut:
1.        Keterampilan teknis (technical skill), adalah kemampuan menggunakan alat-alat, prosedur, teknis suatu bidang yang khusus, misalnya keterampilan dengan suatu cara pembuatan produk, pemeliharaan mesin, penjualan produk, dan sebagainya. Kaitannya dengan lembaga pendidikan keterampilan pimpinan perguruan tinggi atau sekolah contohnya adalah keterampilan membuat satuan acara pembelajaran, membuat modul, membuat jadwal kuliah atau kalender akademik, dll.
2.        Keterampilan manusiawi (human skills), adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dan memotivasi orang lain, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Keterampilan ini sangat penting bagi manajer agar ia dapat bekerja sama dengan anggota-anggota organisasi yang lain, maupun memimpin rapat. Dalam lembaga pendidikan, keterampilan manusiawi sangat penting karena guru berhubungan dengan murid, dosen dengan mahasiswa, dan pemimpin berhubungan dengan seluruh anak buahnya.
3.        Keterampilan konseptual (conceptual skills), adalah kemampuan untuk mengoordinasikan dan memadukan berbagai kepentingan dan kegiatan organisasi ini mencakup kemampuan manajer untuk melihat organisasi sebagai suatu keseluruhan dan memahami bagaimana perubahan pada setiap bagian dapat memengaruhi keseluruhan organisasi. Keterampilan ini wajib dimiliki oleh pimpinan pusat atau manajer puncak.[4]










DAFTAR PUSTAKA
Hikmat. Manajemen Pendidikan, Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2009.______
A.M. Kadarman dan Yusuf Udaya. Pengantar Manajemen. Jakarta: PT Prenhalliando. Cet. 05. 2001.______________________________________
Yusak Burhanuddin. Administrasi Pendidikan. Bandung: PUSTAKA SETIA. 2004.________________________________________________________



[1]  Yusak Burhanuddin, Adminidtrasi Pendidikan, hlm. 119-120.
[2]  Afifudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, personal Press, 2008, hlm. 334.
[3] Kadarman dan Yusuf Udaya, Pengantar Ilmu Manajemen, PT Prenhallindo APTIK, hlm 16-18.
[4] Hikmat. Manajemen Pendidikan, CV Pustaka Setia, hlm 71.